Belajar dari Levi Strauss Saat Bisnis Sedang Terpuruk

Siapa tidak kenal dengan dengan Levi’s? Sebuah merek yang terkenal dengan produk serba jeansnya. Merek yang merajai fashion retail beberapa tahun lalu merupakan salah satu simbol trendi untuk siapa saja yang memakainya. Disadur dari Forbes, Levi Strauss–pencipta Levi’s Jeans dan celana Docker–meraup keuntungan hingga $7.1 miliar pada tahun 1997. Namun hal tersebut tidak bertahan lama. Selang waktu kemudian, Levi Strauss disusul oleh para pesaing seperti Walmart dan Gap dan harus rela berbagi target pasar dengan mereka.

Setelah berlarut-larut “dikalahkan”, akhirnya pada tahun 2011, perusahaan ini menggaet Charles V. “Chip” Bergh. Seorang yang sudah lama berlanglang buana di dunia bisnis dan punya pengetahuan dan pengalaman yang mumpuni. Setelah terpuruk sejak awal tahun 2000an, Levi Strauss akhirnya berusaha bangkit dengan bantuan Bergh dengan beberapa perubahan drastis.

  • Susun Strategi Baru Bersama Tim

Supaya tahu lebih dalam mengenai bisnis yang akan dipimpinnya, Chip Bergh bertanya kepada para manager mengenai bisnis yang dikelola. Ia mau tahu medan bisnis dari pada pemainnya langsung. Selain itu, ia juga mengembangkan strategi bisnis baru bersama dengan timnya.

Tahukah kamu kalau melibatkan manajemen tim adalah hal yang krusial dalam menyusun strategi baik ketika bisnis dalam keadaan oke apalagi pada saat sedang loyo. Jangan membuat keputusan atau menyusun strategi sendirian tanpa dipelajari bersama manajemen tim. Terkadang, titik rendah para pebisnis ritel adalah ketika mereka putus asa dalam mencari strategi baru. Maka cobalah melatih untuk berpikir kreatif, mencari banyak inspirasi, dan berinovasi untuk menarik minat para pelanggan.

  • Inisiasi Investasi Baru

Chip Bergh memulai perubahannya dengan berinvestasi pada hal baru dan berkonsentrasi pada pakaian wanita. Ia tidak cuma ingin membuat perusahaan yang dipimpinnya bangkit tetapi juga ingin Levi Strauss menjadi yang terbaik di kelasnya. Berinvestasi pada hal baru memang memakan waktu, tapi tetap harus dilakukan. Karena pada hakikatnya, sebuah strategi baru membutuhkan investasi yang baru pula. Kamu mungkin bisa mulai dengan berinvestasi pada hal-hal kecil dengan mulai mencoba memakai sistem point of sale, misalnya.

[Cari tahu apa itu sistem point of sale di sini!]

  • Levi Strauss Berekspansi!

Di antara banyak langkah berani yang ia ambil, CEO Chip went super bold dengan mengekspansi pasar ke Rusia, Tiongkok, dan India. Untuk memacu agar bisnis yang dipimpin dapat berdiri lagi adalah dengan mengujinya. Salah satunya dengan ekspansi pasar. Terlebih lagi, di zaman modern sekarang, ekspansi pasar bukanlah hal yang sulit bahkan bisa jadi jalan keluar dengan tampil di ranah global. Untuk kamu yang ingin ekspansi, bisa dimulai dengan sederhana. Contohnya dengan mulai menjual kebutuhan di luar target usia yang selama ini jadi target andalan.

  • Catching Up with The Internet

Chip Bergh menaruh perhatian terhadap internet. Ia bahkan mengembangkan e-commerce milik Levi Strauss sendiri dan melakukan modernisasi dengan meluaskan cakupan layanannya. Meskipun situs jual beli online sudah begitu banyak di internet tetapi baru sedikit yang menawarkan pengalaman berbelanja (shopping experience) yang efektif. Misalnya, masih amat sedikit situs yang punya fitur pengingat bahwa pelanggan belum membeli barang yang barusan dilihat. Belajar dari apa yang dilakukan Bergh, kamu bisa mulai memberikan perhatian sedikit lebih banyak pada pengalaman berbelanja para pelanggan melalui situs online milikmu atau melalui situs e-commerce.

  • Perubahan Pada Staf, Perubahan Pada Sistem

Secara eksrem, di 18 bulan pertamanya, Chip Bergh mengganti 9 dari 11 anggota tim eksekutifnya dengan orang baru. Ia juga tak tanggung-tanggung meninjau ulang 150 manajer senior dan kini, dua per tiga dari para manajer tersebut baru bergabung selama tiga atau dua tahun di Levi Strauss. Dengan kata lain, CEO yang baru sekitar 6 tahun memimpin Levi Strauss ini tidak takut untuk menerapkan perubahan yang sangat signifikan.

Levi Strauss team change

[Kenapa bisnis ritel butuh sistem point of sale?]

Perubahan seperti ini memang diperlukan. Sistem yang dikelola selama 20 atau 30 tahun–seperti sistem yang dianut Levi Strauss sebelum Bergh–mungkin sudah baik. Tetapi apakah sistem tersebut mampu bersaing di zaman modern seperti sekarang ini? Chip Bergh juga tidak takut untuk merombak anggota manajemen timnya. Bahkan tim yang paling matang sekalipun butuh untuk ditinjau ulang. Para pebisnis dapat (dan harus berani) melakukan evaluasi dan mengurangi staf manajemennya jika memang diperlukan.

Tahun 2017 ini akan jadi tahun kelima pertumbuhan signifikan Levi Strauss. Perusahaan ini pelahan-lahan mulai mengklaim kembali tahtanya sebagai perusahaan pakaian terbaik di dunia dan perusahaan dengan performa terbaik dari semua industri. Jadi, jika bisnis ritel raksasa sekelas Levi Strauss saja mampu dan berani melakukan transformasi, bagaimana dengan bisnismu?

Ada saran lain? Silahkan tulis saranmu di kolom komentar, ya!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *